.
Padang-Sfn // Bencana hidrometeorologi basah mengepung Sumatera Barat dengan dampak yang memilukan. Hujan deras yang mengguyur tanpa henti sejak beberapa hari belakangan memicu banjir bandang (galodo) dan tanah longsor, Rabu (26/11/2025) hingga Kamis (27/11/2025).
Bencana terjadi secara serentak di empat wilayah terparah, yakni Kota Padang, Padang Panjang, Padang Pariaman, dan Agam. Peristiwa ini tidak hanya melumpuhkan akses vital jalan nasional, tetapi juga menelan puluhan korban jiwa dan menghancurkan permukiman warga.
Di jalur vital Padang-Bukittinggi, akses lumpuh total akibat tertimbun material tanah, lumpur, bebatuan, dan batang pohon di gerbang Kota Padang Panjang dan Jembatan Kembar, kawasan Lembah Anai. Dampak mengerikan terlihat di kawasan hilir, tepatnya di Aliran Sungai Batang Anai, Kecamatan 2×11 Kayu Tanam, Padang Pariaman, di mana tim gabungan menemukan tujuh jenazah yang terdiri dari tiga laki-laki dewasa, tiga perempuan dewasa, dan satu anak laki-laki.
Kapolres Padang Pariaman, AKBP Ahmad Faisol Amir menyebutkan, jenazah yang diduga warga Tanah Datar dan Padang Panjang itu ditemukan dalam kondisi fisik rusak akibat benturan material, dan saat ini tim Inafis masih berupaya melakukan identifikasi di Puskesmas Kayu Tanam. Petugas pun terus menyisir lokasi karena potensi penambahan korban masih ada mengingat luasnya sebaran material banjir.
Kondisi tak kalah mencekam menyelimuti Kabupaten Agam yang dihantam longsor dan banjir bandang di dua kecamatan sekaligus. Di Jorong Toboh, Kecamatan Malalak, data terkini mencatat delapan orang meninggal dunia dan tujuh orang lainnya masih dinyatakan hilang.
Sebanyak 135 Kepala Keluarga terpaksa mengungsi di lima titik aman, sementara pencarian korban hilang sempat dihentikan sementara akibat cuaca ekstrem yang berisiko memicu longsor susulan.
Sementara itu, di Jorong Ariakia, Nagari Dalko, Kecamatan Tanjung Raya, longsor dahsyat menghancurkan 10 rumah warga dan menewaskan sepasang suami istri, Emnimar dan Safarudin, serta menyebabkan tiga warga lainnya hilang tertimbun material.
Di Kota Padang, air bah datang dalam hitungan menit menerjang kawasan Lubuk Minturun, termasuk komplek perumahan elit Lumin Park, akibat luapan air dari hulu Gunung Nago dan Batu Busuk. Tim Brimob Polda Sumbar yang melakukan penyisiran berhasil mengevakuasi lima jenazah tanpa identitas yang tertimbun lumpur dan vegetasi lebat, melengkapi laporan sebelumnya mengenai tiga warga yang terseret arus.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton menegaskan, air bah dipicu oleh curah hujan ekstrem dan mengimbau warga untuk menjauhi bantaran sungai karena kondisi cuaca yang masih belum stabil.
Dampak kehancuran tidak hanya terpusat di Padang, Padang Panjang, Padang Pariaman, dan Agam. Eskalasi bencana juga terjadi di wilayah Pasaman, Pasaman Barat, Kota dan Kabupaten Solok, hingga Pesisir Selatan.
Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Sumbar, Arry Yuswandi mengungkapkan, kerugian material sementara akibat rentetan bencana ini telah mencapai Rp6,53 miliar. Angka kerugian terbesar dicatatkan oleh Kabupaten Padang Pariaman yang menembus hampir Rp4,9 miliar. Melihat masifnya dampak kerusakan dan ancaman keselamatan jiwa, Arry meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra, terutama bagi mereka yang bermukim di daerah rawan banjir dan longsor, serta mematuhi setiap arahan petugas di lapangan.

